film terbaru planes: fire and rescue (2014) rudy smoker



Sutradara : Roberts Gannaway
Pemain : Dane Cook, Ed Harris, Julie Bowen
Rating IMDB : 5.8
Kualitas Video : Bluray
Genre : Adventure Comedy

 sinopsis :
Mengisahkan tim pemadam kebakaran yang elit dan kini mereka bertugas untuk melindungi Taman Nasional Puncak Piston dari amukan api. Sebuah pesawat balap, Dusty (Dane Cook) memutuskan untuk pensiun dari balapan setelah mengetahui fakta bahwa mesinnya rusak dan ia tak boleh lagi berkompetisi. Ia lalu bergabung dengan kesatuan pemadam kebakaran hutan. Dalam tim ini Dusty bertemu dengan banyak jenis transportasi dan mereka telah memiliki tugasnya masing-masing. Sebuah helikopter Blade Ranger, pesawat yang gagah berani sekaligus bersemangat Dipper (Julie Bowen), selain itu ada juga Windlifter dia adalah mantan transportasi militer, Cabbie dan The Smokejumpers adalah sekelompok kendaraan untuk berbagai medan. Bersama-sama mereka berusaha mengatasi kebakaran hutan yang hebat.

trailer:


 link : DOWNLOAD FILM

 

film terbaru MISFIRE (2014) rudy smoker








  • Studio: Image Entertainment
  • Release: October 21, 2014
  • Director: R. Ellis Frazier
  • Writer: Benjamin Budd
  • Cast: Gary Daniels, Vannessa Vasquez, Michael Greco, Luis Gatica, Geoffrey Ross, Patricia Peinado Cruz
  • Genre: ,
  •  sinopsis:

    Hardened agen DEA, Cole, turun ke dunia bawah berbahaya Tijuana, Meksiko untuk mencari wartawan mantan istrinya yang ia percaya telah diculik oleh bos Kartel karismatik dengan aspirasi untuk jabatan publik.

    Ulasan: Gary Daniels kembali dalam aksi film thriller dari sutradara R. Ellis Frazier (Dead Drop). Jika Anda sedang mencari banyak adegan perkelahian maka Anda akan kecewa; ada beberapa tapi ini lebih dari urusan karakter-driven lambat terbakar.

    Daniels ini bisa dibilang pada karir bentuk terbaik akting-bijaksana, meskipun tidak mengatakan sangat banyak. Karakternya Cole sangat intens dan melakukan sebagian besar nya berbicara dengan matanya. Ada adegan besar ketika dia duduk berbicara dengan saudaranya setelah ia ditangkap dan cara Gary melihat dia benar-benar terjebak dengan saya. Dia hanya tampak seperti dia akan meledak karena marah dan kemudian pada akhir belas kasih adegan mengambil alih dan ia meletakkan tangannya di bahu saudaranya.

    Seperti saya katakan, macet adalah sedikit lambat untuk mendapatkan terjadi di babak pertama tetapi ketika aksi terjadi rasanya otentik dan visceral. Tidak ada yang tidak realistis terjadi dan ada rasa asli ancaman selama tembak-out. Peluru terbang di mana-mana dan fakta bahwa itu benar-benar ditembak di Baja hanya menambah realisme.

    Saya suka bagaimana penduduk setempat berdiri dan menonton di latar belakang saat adegan aksi yang terjadi. Saya tidak yakin jika mereka ekstra atau orang-orang hanya nyata secara acak mencari tapi itu benar-benar membuatnya merasa seperti Anda sedang menonton sebuah film dokumenter dari cerita ini berlangsung.

    Saya akan senang melihat lebih banyak bos Kartel Raul Montenegro (Luis Gatica) yang besar dalam apa yang beberapa adegan yang dimilikinya.

    Vannessa Vasquez adalah rahang-droppingly cantik dan sangat menyenangkan sebagai Gracie; ia berhasil menjadi sulit dan simpatik yang tidak mudah untuk menarik off.

    20 menit terakhir adalah di mana tindakan benar-benar kicks off dan Gary memiliki beberapa tangan-ke-tangan adegan perkelahian yang mengagumkan, ditambah dengan beberapa shoot-out baik dieksekusi.

    Poster (lihat gambar profil) melukiskan gambaran yang sangat berbeda dari apa film yang sebenarnya adalah seperti; Saya ingat ini terjadi dengan Film Frazier seberang Line, di mana itu dibuat agar terlihat seperti sebuah film aksi ledakan tapi lebih dari sebuah thriller karakter didorong. Itulah yang terjadi dengan macet juga; tidak ada helikopter meledak dan tindakan adalah skala kecil, tapi itu tidak selalu hal yang buruk.

    Secara keseluruhan, meskipun awal yang lambat, macet adalah action thriller yang menarik dengan kinerja tingkat pertama dari Gary Daniels dan ada tindakan yang cukup untuk menyenangkan penggemar aliran.


    Trailer 

    LINK :DOWLOAD FILM




    <

    laporan biokimia

    aporan biokimia

    BAB I
    PENDAHULUAN
    I.1 LATAR BELAKANG
    Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel hidup. Sekarang, kira-kira lebih dari 2.000 enzim telah teridentifikasi, yang masing-masing berfungsi sebagai biokatalisator reaksi kimia dalam sistem hidup. Sintesis enzim terjadi dalam sel dan sebagai besar enzim dapat diperoleh dengan ekstrasi dari jaringan tanpa merusak fungsinya (Sirajuddin,2011).
    Sebagai katalisator, enzim berbeda dengan katalisator anorganik dan organik sederhana yang umumnya dapat mengatalisis berbagai reaksi kimia. Enzim mempunyai spesifitas yang sangat tinggi, baik terhadap reaktan (substrat) maupun jenis reaksi yang dikatalisiskan. Pada umumnya, suatu enzim hanya mengatalisis satu jenis reaksi dan bekerja pada suatu substrat tertentu. Kemudian, enzim dapat meningkatkan laju reaksi yang luar biasa tanpa pembentukan produk samping dan molekul berfungsi dalam larutan encer pada keadaan biasa (fisiologis) tekanan, suhu, dan pH normal. Hanya sedikit katalisator nonbiologi yang dilengkapi sifat-sifat demikian (Sirajuddin,2011).
    Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Enzim bekerja dengan urutan-urutan yang teratur dan mengkatalisis ratusan reaksi dari reaksi yang sederhana seperti replikasi kromosom sampai reaksi yang sangat rumit, misalnya reaksi yang menguraikan molekul nutrient; menyimpang; dan mengubah energi kimiawi. Masing-masing reaksi dikatalisis oleh sejenis enzim tertentu. Diantara sejumlah enzim tersebut, ada sekelompok enzim yang disebut enzim pengatur. Enzim dapat mengenali berbagai isyarat metabolis yang diterima. Melalui aktivitasnya, enzim pengatur mengkoordinasikan sistem enzim dengan baik, sehingga menghasilkan hubungan harmonis diantara sejumlah aktivitas metabolis yang berbeda (Sirajuddin,2011).
    Pada keadaan abnormal atau aktivitas berlebihan suatu enzim dapat menimbulkan penyakit. Analisis enzim dalam serum dapat digunakan untuk diagnosis penyakit,seperti : infarktus otot jantung, prostate, hepatitis, dan lain-lain (Sirajuddin,2011).
    Berdasarkan penjelasan diatas, maka dilakukanlah percobaan terhadap Enzim.

    I.2 TUJUAN PERCOBAAN
    I.2.1 TUJUAN UMUM
    1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim.
    2. Membuktikan adanya enzim dalam suatu bahan.
    3. Mengetahui aktivitas enzim dalam mengkatalisis substrat.
    4. Mengetahui sifat dan susunan empedu.

    I.2.2 TUJUAN KHUSUS
    1. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
    Mengetahui suhu terhadap aktivitas enzim.
    2. Pengaruh pH Terhadap aktivitas enzim
    Membuktikan bahwa derajat keasaman (pH) mempengaruhi aktivitas enzim.
    3. Pengaruh Konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
    Mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap perombakan suatu substrat (amilum).
    4. Pengaruh Konsentrasi Subtrat terhadap aktivitas enzim
    Mengetahui pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.

    I.3 PRINSIP PERCOBAAN
    1. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
    Pada suhu sangat rendah, aktivitas enzim dapat terhenti secara reversible. Kenaikan suhu lingkungan akan meningkatkan energi kinetik enzim dan frekuensi tumbukan antara molekul enzim dan substrat, sehingga enzim menjadi aktif.
    Pada suhu dimana enzim masih aktif, umumnya kenaikan suhu 100C menyebabkan kecepatan reaksi enzimatis bertambah 1,1 hingga 3,0 kali lebih besar. Pada suhu optimum, kecepatan reaksi enzimatis berlangsung maksimal. Bila suhu ditingkatkan terus, maka enzim akan mengalami denaturasi, sehingga aktivitas katalitiknya terhenti. Sebagian besar enzim memiliki suhu optimum 300C sampai 400C dan mengalami denaturasi secara irreversible pada pemanasan di atas suhu 600C.
    2. Pengaruh pH Terhadap aktivitas enzim
    Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu dan umumnya tergantung pada pH lingkungan. Enzim menunjukkan aktivitas maksimal pada pH optimum, umumnya antara pH 6-0,8. Jika pH rendah atau tingggi, maka dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi, sehingga menurunkan aktivitasnya.
    Terjadinya penurunan aktivitas enzim dapat dilihat dari hasil hidrolisis substrat yang dikatalisis. Misalnya, amilum terhidrolisis menjadi maltosa dan glukosa. Hasil hidrolisis dapat dibuktikan dengan uji benedict. Bila positif, bererti amilum terhidrolisis, sehingga dapat diasumsikan enzim memiliki aktivitas tingggi. Sebaliknya, bila hasilnya negatif, berarti amilum tidak terhidrolisis karena enzim tidak aktif atau mengalami penurunan aktivitas.
    3. Pengaruh Konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
    Pada konsentrasi substrat tertentu, bertambahnya konsentrasi enzim secara bertingkat akan menaikkan kecepatan reaksi enzimatis. Dengan kata lain, semakin besar volume atau konsentrasi enzim, semakin tinggi pula aktivitas enzim dalam memecah substrat yang dikatalisis. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan warna yang terjadi melalui uji iodium atau adanya endapan yang terbentuk melalui uji benedict.


    4. Pengaruh Subtrat terhadap aktivitas enzim
    Pada konsetrasi enzim yang tetap, penambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi enzimatis sampai mencapai kecepatan maksimum yang tetap. Penambahan substrat setelah kecepatan maksimum tidak berpengaruh lagi, sebab telah melampaui titik jenuh enzim.

    I.4 MANFAAT PERCOBAAN
    1. Untuk mengetahui suhu terhadap aktivitas enzim.
    2. Untuk membuktikan bahwa derajat keasaman (pH) mempengaruhi aktivitas enzim.
    3. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap perombakan suatu substrat (amilum).
    4. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.



    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA
    Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. Sintesis enzim terjadi didalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya (Sadikin, 2001).
    Kepentingan medis enzim. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu didalam sel, kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. Sebagai contoh, enzim-enzim yang berperan dalam sintesis dan reparasi DNA terdapat di dalam inti sel yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. Enzim yang berhubungan dengan biosintesis protein berada bersama ribosom. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien (Sadikin, 2001).
    Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu, misalnya pada efisiensi enzim glukosa 6/fosfat dehidrogenase (G6PDH/G6PD). Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangat rentang terhadap pembebanan oksidatif, misalnya pada pemakian obat analgetik tertentu dan obat anti/malaria. Pada pemakaian obat-obatan tersebut dapat terjadi hemolisis intrafaskuler (Sadikin, 2001).
    Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diaknosis berbagai penyakit. Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diaknosis ialah bahwa pada hakekatnya, sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu. Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan, berarti sel yang membuatnya mengalami disentegrasi. Bila enzim diukur dalam serum terutama di buat oleh jaringan atau organ tertentu, maka peningkatan aktivitas dalam serum menunujukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut (Sadikin, 2001).
    Semua enzim pada hakikatnya adalah protein. Beberapa diantaranya mempunyai struktur yang sederhana, sedangkan sebagaian besar lainnya memiliki strruktur rumit. Namun, kebanyakan enzim baru berfungsi sebagai katalis apabila disertai zat yang bukan protein, yang disebut kofator. Suatu kafator dapat berupa ion logam sederhana seperti Fe2+ atau Cu2+, tetapi dapat pula berupa molekul organik kompleks yang disebut koenzim. Bagian protein dari enzim disebut apoenzim. Kemudian, gabungan apoenzim dan kofaktornya sehingga enzim menjadi aktif disebut holoenzim (Sirajuddin, 2011).
    Sebagian besar protein dicerna menjadi asam amino, selebihnya menjadi tripeptida dan dipeptida. Pencernaan atau hidrolisis protein di mulai di dalam lambung. Asam klorida lambung membuka gulungan protein (proses denaturasi), sehingga enzim pencernaan dapat memecah ikatan peptida. Asam klorida mengubah enzim pepsinogen tidak aktif yang dikeluarkan oleh mukosa lambung menjadi bentuk aktif pepsin. Makanan hanya sebentar berada di dalam lambung, pencernaan protein hanya terjadi hingga di bentuknya campuran polipeptida, protese dan pepton (Yuniastuti, 2007).
    Ludah adalah cairan kental yang diproduksi oleh kelenjar ludah. Kelenjar-kelenjar ludah tersebut terletak di bawah lidah, daerah otot pipi dan di daerah dekat langit-langit. Air ludah 99,5% terdiri dari air. Sisanya bermacam-macam. Ada zat-zat seperti kalsium ( zat kapur), fosfor, natrium, magnesium dan lain-lain. Di samping itu juga terdapat mucin, amylase, enzim-enzim, bahkan golongan darah, lemak, zat tepung, vitamin juga dan sebagainya (Machfoedz, 2008).
    Mucin adalah bahan yang dapat menyebabkan sifat air menjadikental, licin. Amilase adalah enzim yang dapat memecah (mencerna) zat tepung hidro karbon (nasi, roti, singkong, jagung, terigu, sagu, dan lain-lain) menjadi zat tepung lain yang lebih halus dengan tujuan mencernanya, sehingga nantinya dapat diserap oleh dinding usus halus. Hidro karbon seperti nasi, roti, singkong, jagung, terigu, sagu, dan lain-lain itu dalam ilmu kimia susunannya disebut polisakarida. Setelah dicerna oleh amilase akan berubah manjadi disakarida, yakni zat tepung yang susunan kimianya lebih sederhana. Bila masuk lambung dan usus akan dicerna lagi menjadi lebih sederhana lagi, menjadi monosakarida, yakni glukosa atau zat gula darah. Itulah sebabnya jika kita makan singkong, dikunya agak lama, akan terasa manis. Hal ini disebabkan karena zat tepung bila dicerna oleh amilase akan menjadi zat yang makin manis rasanya (Machfoedz, 2008).
    Enzim adalah bahan yang dapat atau memang bertugas untuk mempercepat suatu reaksi bahan seperti halnya memecah bahan tertentu menjadi bahan lain secara kimia, sedangkan enzim itu sendiri tidak berubah dari aslinya. Enzim-enzim lainnya adalah lisozime, lipase, esterase, dan lain-lain. Istimewa lisozime dapat membunuh kuman, sebab enzim ini akan memecah atau merusak dinding sel bakteri atau kuman itu, sehingga dinding sel itu mengalami lisis atau hancur (Machfoedz, 2008).
    Pencernaan protein dilanjutkan di dalam usus halus oleh campuran enzim protase. Pankreas mengeluarkan cairan yang bersifat sedikit basa dan mengandung berbagai prekursor protase, seperti tripsinogen, kimotripsinogen, prokarboksipeptidase, dan proelastase. Enzim-enzim ini menghidrolisis ikatan peptida tertentu. Sentuhan kimus terhadap mukosa usus halus merangsang dikeluarkannya enzim enterokinase yang mengubah tripsinogen tidak aktif yang berasal dari pankreas menjadi tripsin aktif. Perubahan ini juga dilakukan oleh tripsin sendiri secara otokatalitik. Di samping itu tripsin dapat mengaktifkan enzim-enzim proteolitik lain berasal dari pankreas. Kimotripsinogen diubah menjadi beberapa jenis kimotripsin aktif, prokarboksipeptidase dan proelastase diubah menjadi karboksipeptidase dan elastase aktif. Enzim-enzim pankreas ini memecah protein dari polipeptida menjadi peptida lebih pendek, yaitu tripeptida, dipeptida, dan sebagian menjadi asam amino (Yuniastuti, 2007).
    Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun di luar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, di samping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi.seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energi aktivitas suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada yang membutuhkan energi (reaksi endergonik) dan ada pula yang menghasilkan energi atau mengeluarkan energi (eksergonik) (Poedjiadi, 1994).
    Telah dijelaskan bahwa enzim mepunyai kekhasan yaitu hanya bekerja pada satu reaksi saja. Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus ada hubungan atau kontak anatara enzim dengan substrat. Suatu enzim mempunyai ukuran yang lebih besar daripada substrat. Oleh karena itu tidak seluruh bagian enzim dapat berhubungan dengan substrat. Hubungan antara substrat dengan enzim hanya terjadi pada bagian atau tempat tertentu saja. Tempat atau bagian enzim yang mengadakan hubungan atau kontak dengan substrat dinamai bagian aktif (active site). Hubungan hanya mungkin terjadi apabila bagian aktif mempunyai ruang yang tepat dapat menampung substrat. Apabila substrat mempunyaibentuk atau konfirmasi lain, maka tidak dapat ditampung pada bagian aktif suatu enzim. Dalam hal ini enzim itu tidak dapat berfungsi terhadap substrat. Ini adalah penjelasan mengapa tiap enzim mempunyai kekhasan terhadap substrat tertentu (Poedjiadi, 1994).
    Hubungan atau kontak antara enzim dengan substrat menyebabkan terjadinya kompleks enzim-substrat. Kompleks ini merupakan kompleks yang aktif, yang bersifat sementara dan akan terurai lagi apabila reaksi yang diinginkan telah terjadi (Poedjiadi, 1994).
    Pada suatu percobaan hidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa oleh enzim, ternyatra bahwa pada konsentrasi sukrosa. Namun pada konsentrasi tinggi, kecepatan reaksinya tidak lagi tergantung pada konsentrasi sukrosa. Jadi pada konsentarsi tinggi, kecepatan reaksi tidak dipengaruhi lagi oleh pertambahan konsentrasi. Ini menunjukkan bahwa enzim seolah-oleh telah jenuh dengan substrat, artinya tidak dapat lagi menampung substrat. Untuk menerangkan keadaan ini Leonor Michaelis dan Maude Menten pada tahun 1913 mengajukan suatu hipotesis bahwa dalam reaksi enzim terjadi lebih dahulu kompleks enzim substrat yang kemudian menghasilkan hasil reaksi dan enzim kembali (Poedjiadi, 1994).
    Setiap enzim mempunyai suhu optimum, yaitu suhu di mana enzim memiliki aktivitas maksimal. Enzim di dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimal sekitar 370C. di bawah atau di atas suhu optimum, aktivitas enzim menurun. Suhu mendekati titik beku tidak merusak enzim, tetapi enzim tidak aktif. Jika suhu di naikkan, maka aktivitas enzim meningkat. Namun, kenaikan suhu yang cukup beasr dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi dan mematikan aktivitas katalisisnya. Sebagian besar enzim mengalami denaturasi pada suhu di atas 600C (Sirajuddin, 2011).
    Pada konsentrasi substrat tertentu, bertambahnya konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatis. Dengan kata lain, kecepatan reaksi enzimatis (V) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim (E) sampai batas tertentu, sehingga reaksi mengalami kesetimbangan. Pada saat setimbang, peningkatan konsentrasi enzim sudah tidak berpengaruh (Sirajuddin, 2011).
    Pada konsentarsi enzim yang tetap, peningkatan konsentarsi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi enzimatis sampai mencapai kecepatan maksimum (Vmaks) yang tetap. Pada titik maksimum, semua enzim telah jenuh dengan substrat, sehingga penambahan substrat sudah tidak akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatis (Sirajuddin, 2011).
    Penggolongan enzim. Hal yang sangat penting bagi enzim adalah kerjanya yang sangat spesifik. Suatu enzim dapat mengkatalisis satu atau beberapa reaksi saja. Meskipun jumlah enzim ada ribuan yang bersumber dari makhluk hidup, reaksi-reaksi yang dikatalisis oleh enzim-enzim ini ternyata dapat digolongkan ke dalam 6 macam reaksi saja. Berdasarkan itu, para ahli telah menggolongkan enzim ke dalam 6 golongan, sesuai dengan jenis reaksi yang dikatalisis yaitu (Sadikin, 2001):
    1. Oksidoreduktase. Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi-reaksi oksidasi reduksi.
    2. Transferase. Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan berbagai gugus seperti amina, karboksil, karbonil, metil, asil, glikolisis atau fosforil.
    3. Hidrolase. Kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen sambil mengikat air.
    4. Liase. Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi pemecahan ikatan kovalen tanpa mengikat air.
    5. Isomerase. Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi isomerisasi.
    6. Ligase (sintetase). Kelompok enzim ini mengkatalisis pembentukan ikatan kovalen.
    Kespesifikan enzim dibedakan dalam kespesifikan optik dan gugus. Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat. Umumnya enzim-enzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D dan bukan L. sebaliknya enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D.kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerja terhadap gugus tertentu. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alkohol (Sadikin, 2001).







    BAB III
    METODOLOGI PERCOBAAN
    III.1 Alat dan Bahan
    1. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
    Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini ialah tabung reaksi, pipet ukur, pipet tetes, gelas kimia, alat pemanas, pendingin, penjepit tabung, sikat tabung, kertas lebel, dan rak tabung.
    Adapun bahan yang digunakan ialah larutan amilum 2%, enzim amilase (saliva), larutan iodium, pereaksi benedict, tissu roll, dan sunlight.
    2. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
    Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini ialah tabung reaksi, pipet ukur, gelas kimia, alat pemanas, penjepit tabung, rak tabung, sikat tabung, dan kertas lebel.
    Adapun bahan yang digunakan larutan amilum 2%, enzim amilase (saliva), larutan HCl 0,4% pH=1, aquades pH=7, larutan Na2CO3 pH=9, pereaksi benedict, larutan iodium, tissu roll, dan sunlight.
    3. Pengaruh Konsentrasi Enzim Terhadap Aktivitas Enzim
    Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini ialah tabung reaksi, pipet ukur, pipet tetes, gelas kimia, alat pemanas, penjepit tabung, sikat tabung, kertas lebel, dan rak tabung.
    Adapun bahan yang digunakan ialah larutan amilum 2%, enzim amilase (saliva), larutan iodium, pereaksi benedict, tissu roll, dan sunlight.
    4. Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim
    Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini ialah tabung reaksi, pipet ukur, pipet tetes, gelas kimia, alat pemanas, penjepit tabung, sikat tabung, kertas lebel, dan rak tabung.
    Adapun bahan yang digunakan ialah larutan amilum 2%, enzim amilase (saliva), larutan iodium, pereaksi benedict, tissu roll, dan sunlight.

    III.2 Prosedur Kerja
    1. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
    1. Disediakan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering, masing-masing diisilah dengan 2 ml larutan amilum.
    2. Ditambahkan 1 ml enzim amilase pada setiap tabung.
    3. Tabung 1, dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi es.
    Tabung 2, disimpan pada suhu kamar.
    Tabung 3, dimasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 37-400C.
    Tabung 4, dimasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 75-800C.
    Tabung 5, dimasukkan ke dalam penangas air mendidih.
    4. Dibiarkan masing-masing tabung pada tempatnya selama 15 menit.
    5. Selanjutnya, diuji dengan larutan iodium.
    6. Diuji pula dengan pereaksi benedict.
    7. Dicatat dan diamati perubahan warna yang terjadi.
    2. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
    1. Disediakan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian diisilah tabung pertama dengan 2 ml larutan HCl 0,4%; tabung kedua dengan 2 ml aquades; dan tabung ketiga dengan 2 ml Na2CO3 1%.
    2. Ke dalam tiap tabung, ditambahkan 2 ml larutan amilum dan 1 ml enzim.
    3. Dicampurlah sampai homogen, kemudian dibiarkan selama 15 menit.
    4. Selanjutnya, diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict.
    5. Diamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi.
    3. Pengaruh Konsentrasi Enzim Terhadap Aktivitas Enzim
    1. Disiapkan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian pada tabung 1, 2, dan 3 berturut-turutdiisilah dengan amilase: 0,5 ml; 1,0 ml; dan 1,5 ml.
    2. Ke dalam tiap tabung, ditambahkan larutan amilum 2 ml.
    3. Dicampurlah dengan baik, kemudian dibiarkan selama 15 menit.
    4. Selanjutnya, diujilah dengan larutan iodium dan pereaksi benedict.
    5. Dicatat dan diamati perubahan yang terjadi.
    4. Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim
    1. Disiapkan 4 tabung reaksi bersih, kemudian diisilah berturut-turut dengan larutan amilum: 1 ml, 2 ml, 4 ml, dan 6 ml.
    2. Ke dalam tiap tabung, ditambahkan enzim amilase 1 ml.
    3. Dicampurlah dengan baik, kemudian dibiarkan selama 15 menit.
    4. Selanjutnya, diujilah dengan larutan iodium dan pereaksi benedict.
    5. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.



    BAB IV
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    IV.1 Hasil Percobaan
    1. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
    No tabung Suhu (0C) Perubahan warna
    Uji iodium Uji benedict
    1 0 Kuning Endapan merah bata
    2 25-30 Kuning Endapan merah bata
    3 37-40 Kuning Kuning pucat
    4 75-80 Kuning-coklat Biru
    5 100 Endapan hitam Coklat

    2. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
    No tabung Suhu (0C) Perubahan warna
    Uji iodium Uji benedict
    1 1,0 Jingga Endapan hijau muda
    2 7,0 Kuning keruh Endapan orange tua
    3 9,0 Kuning bening Endapan orange

    3. Pengaruh Konsentrasi Enzim Terhadap Aktivitas Enzim
    No Konsentrasi substrat Konsentrasi enzim Perubahan warna
    Uji iodium Uji benedict
    1 Amilum 2 ml Amilase 0,5 ml Kuning Merah bata
    2 Amilum 2 ml Amilase 1,0 ml Kuning pekat Orange
    3 Amilum 2 ml Amilase 1,5 ml Kuning bening Hijau

    4. Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim
    No Konsentrasi substrat Konsentrasi enzim Perubahan warna
    Uji iodium Uji benedict
    1 Amilum 1 ml Amilase 1 ml Kuning Merah bata
    2 Amilum 2 ml Amilase 1 ml Kuning Merah bata
    3 Amilum 4 ml Amilase 1 ml Kuning Merah bata
    4 Amilum 6 ml Amilase 1 ml Kuning Merah bata


    IV.2 PEMBAHASAN
    1. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
    Dari hasil percobaan kelompok kami, pada tabung pertama tabung dengan menyimpang digelas kimia yang berisikan dengan es tidak terjadi perubahan warna pada uji iodium dan uji benedict. Hal ini disebabkan oleh enzim yang dalam keadaan suhu rendah terhenti secara reversible sehingga tidak terjadinya proses hidrolisis pada amilum sehingga tidak terjadi perubahaan warna. Pada tabung kedua yang disimpang pada suhu kamar terjadi perubahan warna pada kedua uji. Hal ini terjadi karena pada suhu kamar kenaikan suhu lingkungan akan meningkatakan energi kinetik enzim dan frekuensi tumbukan antara molekul enzim dan substrat, sehingga enzim aktif dan keaktifan ini yang menyebabkan amilum dapat terhidrolisis sehingga terjadi perubahan warna pada kedua uji. Pada tabung ketiga yang dimasukkan kepenangan air yang bersuhu 37-400C juga terjadi perubahan warna pada kedua uji. Hal ini di sebabkan enzim memiliki suhu optimal 30-400C sehingga pada suhu ini aktivitas enzim berjalan maksimal sehingga dapat menghidrolisis amilum yang membuat pada kedua uji terjadi perubahan warna. Pada tabung keempat dimasukkan kedalam kepenangan air yang bersuhu 75-800C yang mana kedua uji mengalami perubahan warna. Hal ini terjadi pada suhu demikian enzim mengalami denaturasi irreversible yang pada suhu awal mengalami perubahan kenaikan suhu sebelum terjadinya prosesdenaturasi dapat menaikkan kecepatan reaksi, namun kenaikan suhu pada saat mulai terjadinya proses denaturasi akan mengurangi kecepatan reaksi. Hal ini juga terjadi pada tabung kelima.
    2. Pengaruh pH Tehadap Aktivitas Enzim
    Dari hasil percobaan kelompok kami, pada tabung pertama dengan penambahan HCl yang berpH 1 setelah diuji dengan larutan iodium terjadi perubahan warna menjadi jingga, kuning keruh, kuning bening dan dengan uji benedict terbentuk endapan hijau mudah, pada tabung kedua dengan penambahan aquades yang berpH 7 setalah diuji dengan larutan iodium terjadi perubahan warna menjadi orange tua dan uji benedict terbentuk kompleks warna biru bening, sedangkan pada tabung ketiga dengan penambahan Na2CO3 yang berpH 9 setelah diuji dengan larutan iodium terbentuk kompleks orange tua dan uji benedict terbentuk endapan berwarna orange. Disini kelompok kami mengalami kesalahan dalam jumlah larutan yang kurang. Dalam percobaan ini seharusnya pada tabung kedua terbentuk kompleks berwarna biru dengan uji larutan iodium karena enzim menunjukkan aktivitas saat maksimal pada pH optimum, umumnya antara pH 6-8,0 membentuk kompleks biru akan terbentuk karena terjadinya hidrolisis pada amilum dan pada uji benedict akan terbentuk endapan merah bata karena ini disebabakan karena aldosa atau ketosa dalam bentuk siklik, artinya bentuk ini berada dalam kesetimbangannya dengan sejumlah kecil aldehida atau keton rantai terbuka, oleh karena itu gugus aldehida atau keton ini dapat mereduksi berbagai macam reduktor yang berarti amilum terhidrolisis. Sedangkan tabung pertama dan ketiga negatif karena enzim mengalami denaturasi pada pH yang rendah atau tinggi, yang menyebabkan menurunnya kerja enzim. Maka pada uji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict tidak akan menghasilkan hasil positif karena tidak terjadinya proses hidrolisis.
    3. Pengaruh Konsentrasi Enzim Terhadap Kerja Enzim
    Dari hasil percobaan kelompok kami, pada tabung pertama dengan konsentrasi enzim 0,5 ml diuji dengan larutan iodium warna larutan kuning dan dengan uji benedict terbentuk endapan merah bata, pada tabung kedua dengan konsentrasi enzim 1 ml diuji dengan larutan iodium warna larutan luning pekat dan uji beneditc terbentuk endapan yang banyak daripada tabung pertama, sedangakan pada tabung ketiga dengan konsentrasi enzim 1,5 ml diuji dengan larutan iodium warna kuning bening dan uji benendict terbentuk endapan yang lebih banyak dari pada tabung kedua. Dari perubahan warna dan terbentuknya endapan yang diketahui bahwa terjadi hidrolisis pada amilum sehingga dapat diketahui bahwa bertambahnya konsentrasi enzim secara bertingkat akan menaikkan kecepatan reaksi enzimatis. Dengan kata lain, semakin bersar volume atau konsentrasi enzim, semakin tinggi pula aktivitas enzim dalam memecah substrat yang dikatalisis. Pada percobaan ini yang memiliki konsentrasi enzim optimum adalah 0,5 ml dan yang memiliki konsentrasi enzim yang minimum adalah 1,5 ml.
    4. Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim
    Dari hasil percobaan kelompok kami, pada tabung pertama dengan penambahan konsentrasi substrat 1 ml diperoleh hasil dengan uji iodium kuning dan uji benedict terhadap endapan merah bata, pada tabung kedua penambahan substrat 5 ml diperoleh hasil dengan uji iodium kuning dan uji benedict terdapat endapan merah bata, pada tabung keempat penambahan konsentrasi substrat 7 ml memperoleh hasil dengan iodium kuning dengan uji benedict terdapat endapan yang lebih banyak dari tabung sebelumnya. Dan perubahan warna dan terbentunya endapan yang diketahui bahwa terjadinya hidrolisis pada amilum sehingga dapat diketahui bahwa bertambahnya konsentrasi substrat secara bertingkat menaikkan reaksi enzimatis sampai mencapai kecepatan maksimum yang tetap. Tetapi setelah enzim mencapai kecepatan maksimum substrat tidak berpengaruh lagi sebab telah melampaui titik jenuh enzim. Pada percobaan ini enzim yang mempunyai konsentrasi substrak yang optimum ialah 1 ml.




    BAB V
    PENUTUP
    V.1 Kesimpulan
    1. Suhu optimal enzim 370C mendekati 600C enzim meningkat selanjutnya enzim akan mengalami denaturasi sedangkan mendekati titik beku enzim tidak aktif.
    2. Pengaruh pH dapat diketahui dengan terbentuknya endapan dengan penambahan pereaksi benedict. pH optimum enzim tergantung pada pH jaringan sekitar enzim terdapat. Tapi pada umumnya pH enzim sekitar 6-8.
    3. Pengaruh konsentrasi enzim dapat dilihat dari jumlah endapan setelah perubahan pereaksi benedict. Semakin besar konsentrasi enzim semakin tinggi pula aktivitas enzim dalam memecah substrat yang dikatalisis. Pada percobaan ini yang mempunyai konsentrasi enzim yang paling optimum ialah 0,5 ml.
    4. Pengaruh konsentrasi substrat dapat dilihat dengan terbentuknya endapan setelah penambahan pereaksi benedict. Konsentrasi substrat berbanding lurus dengan kecepatan reaksi sampai batas maksimum yang tetap. Jika melewati batas maksimum penambahan substrat tidak berpengaruh. Pada percobaan ini enzim yang mempunyai konsentrasi substrak yang optimum ialah 1 ml.

    V.2 Saran
    1. Kepada asisten diharapkan agar memberikan penjelasan sejelas mungkin.
    2. Di harapkan untuk melengkapi sarana dan prasarana untuk kebutuhan praktikum karena ketidaklengkapan sarana dan prasarana dalam laboratorium dapat menghambat praktikum sehingga praktikum tidak berjalan dengan baik.



    DAFTAR PUSTAKA
    Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Pratikum Biokimia. UNHAS, Makassar.
    Yuniastuti, Ari. 2007. Gizi dan Kesehatan. Graha Ilmu, Yogyakarta.
    Sadikin, Mohammad, dkk. 2001. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Widya Medika, jakarta.

    Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Prees, jakarta.
    Machfoedz, Ircham. 2008. Gigi dan Mulut. Fitramaya, yogyakarta.

    laporan praktikum reproduksi ternak

      reproduksi ternak
     pendahuluan
    1.1.            Materi
                Alat yang digunakan dalam praktikum Kelenjar Endokrin yaitu nampan yang berfungsi untuk tempat peletakkan kepala ayam, gergaji digunakan untuk membelah kepala ayam, pisau untuk memotong leher ayam dan alat tulis untuk menggambar kelenjar hipotalamus dan hipofisa, juga digunakan untuk menulis keterangan dan bagian yang ada di kepala ayam. Bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah kepala ayam, yang akan diamati kelenjar endokrinnya.
    1.2.      Metode
    Metode yang digunakan dalam praktikum Kelenjar Endokrin adalah meletakkan kepala ayam yang sebelumnya telah dicuci bersih. Kuliti kepala ayam dan menggergaji bagian tengah kepala ayam sampai bawah tetapi tidak sampai putus. Mengamati kelenjar hipotalamus dan hipofisa yang ada dibagian kepala, dan menggambar hasil pengamatan dalam buku praktikum.
    BAB II
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    2.1.      Anatomi Kepala Ayam
                Berdasarkan hasil praktikum kelenjar endokrin, diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
    2aaaaaaaa
    3
    4
    1
    2b
    2c
    2d
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Ilustrasi 1. Kelenjar Endokrin Kepala Ayam
    Keterangan: (1). Hipotalamus (2). Ventrikel: a. Ventrikel I. b. Ventrikel II. c. Ventrikel III. d. Ventrikel IV (3). Hipofisa (4). Tulang sphenoid
               
    2.1.1.   Hipotalamus
    Hipotalamus adalah kelenjar endokrin yang menghasilkan Releasing Factor (RF) dan Inhibitor (IH) dari hormon LH dan FSH yang mempengaruhi aktivasi hormon tersebut pada sistem reproduksi ternak. Hipotalamus terletak pada bagian tengah bawah dari otak besar. Hipotalamus yang berfungsi sebagai pengatur atau mengotrol semua kerja hormon. Campbell et al. (2004) menyatakan bahwa hipotalamus terletak di didi inferior thalamus dan  membentuk dasar serta bagian bawah sisi dinding ventrikel ketiga. Hipotalamus memproduksi  hormon yang mengatur pelepasan atau inhibisi hormon kelenjar hipofis sehingga mempengaruhi keseluruhan sistem endokrin. Hal ini diperkuat oleh Hernawati (2007) yang menyatakan  bahwa hormon trofik adalah hormon perangsang thyroid (TSH), hormon perangsang folikel (FSH), hormon penguning (LH), hormon adenocortikotrofik (ACTH) yang merangsang korteks kelenjar adrenal untuk menghasilkan hormon glucocorticoid dan hormon-hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus (hypothalamic releasing hormone atau hypothalamic releasing factor).
    2.1.2.   Hipofisa
    Hipofisa atau hipofisis adalah cairan dalam tulang spenoid yang terdiri dari adenohipofisa dan neurohipofisa. Fungsi dari hipofisa adalah untuk mensekresikan berbagai macam hormon misalnya hormon hipofisa yang berfungsi untuk mensekesikan semua hormon-hormon reproduksi. Letak hipofisa adalah pada rongga tengah dalam tulang spenoid. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa hipofisa mensekresikan sejumlah besar hormon-hormon, beberapa diantaranya berhubungan langsung dengan reproduksi dan yang lain tidak langsung, disamping itu hormon-hormon lain seperti MSH (melanophore stimulating hormone) dan vasopressin juga disekresikan oleh kelenjar hipofisa. MSH mengatur sintesa dan penyebaran melanin sedangkan vasopressin mempengaruhi tekanan darah dan keseimbangan air dalam tubuh. Campbell et al (2004) menambahkan bahwa kelenjar hipofisis merupakan suatu kelenjar yang sangat penting pada hampir setiap fungsi tubuh. Kelenjar ini mengatur seluruh mekanisme yang dapat menyelamatkan keturunan makhluk hidup.
    2.1.3.   Ventrikel Lateral
    Ventrikel lateral terdiri dari ventrikel I dan II. Ventrikel 1 atau yang biasa di sebut dengan otak besar berfungsi sebagai pusat pengatur pengelihatan dan penciuman. Ventrikel 2 atau otak tengah mempunyai fungsi sebagai pusat pengatur pendengaran dan perasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Japardi (2002) yang menyatakan bahwa Kedua ventrikel lateralis ini dihubungkan dengan ventrikel III melalui foramen Monroe (foramen intervertebrale). Muttaqim (2008) menyatakan bahwa ventrikel merupakan rangkaian dari 4 rongga yang saling menghubungkan dan dibatasi oleh ependimal (semacam sel epitel yang membatasi semua rongga otak dan medula spinalis dan mengandung CSS. Ventrikel 1 atau yang biasa di sebut dengan otak besar berfungsi sebagai pusat pengelihatan dan penciuman. Ventrikel 2 atau otak tengah mempunyai fungsi sebagai pusat pendengaran.
    2.1.4.   Ventrikel III
                Ventrikel 3 atau oblongata berfungsi sebagai pusat pengatur koordinasi. Ventrikel ketiga berhubungan dengan ventrikel keempat melalui saluran yang disebut akueduk sylvius, yang disebut akueduk serebralHal ini sesuai dengan pendapat Japardi (2002) yang menyatakan bahwa ventrikel III berhubungan dengan ventrikel IV melalui aquaductus sylvii. Muttaqim (2008) menyatakan bahwa Ventrikel III berfungsi sebagai pusat koordinasi.
    2.1.5.   Ventrikel IV
    Ventrikel 4 (otak kecil) berfungsi sebagai pusat pengatur keseimbangan. Ventrikel keempat terletak diantara serebelum dibagian atas, serta pons dan medula dibagian bawah, berhubungan dengan celah subaraknoid melalui foramen magendia dan luschkaHal ini sesuai dengan pendapat Muttaqim (2008) yang menyatakan bahwa Ventrikel 4 atau otak kecil berfungsi sebagai pusat keseimbangan. Menurut Musana (2010) ventrikel 4 terletak diantara brainstern dan cereblum pada dorsal medulla oblongata.
    2.2.      Mekanisme Timbal Balik
    Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil sebagai berikut :                                  
          Hipotalamus

                                                                          Hipofisa
       Feedback
      Positif
                                  Adenohipofisa                                                Neurohipofisa    Feedback    
                                                                                                                                    Negatif
      
                    FSH                                          LH

                  Folikel                              Folikel de Graff           Corpus Lutheum

                 Estrogen                                 Ovulasi                      Progesteron

                  Estrus                                      Ovum
                                       
                                       Fertilisasi

                                                                Bunting

    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak,2013.
                Ilustrasi 2. Mekanisme Umpan Balik pada Ternak
                Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil bahwa mekanisme umpan balik dapat dijadikan menjadi dua bagian yaitu mekanisme umpan balik positif dan mekanisme umpan balik negatif.
    2.2.1.   Feedback mechanism positif
    Mekanisme umpan balik positif adalah mekanisme yang terjadi saat hormon sasaran naik dan hormon perangsang juga ikut naik, ternak terjadi ketika hormon estrogen naik akibat pertumbuhan folikel untuk persiapan masa estrus, ketika hormon estrogen mengirim respon ke hipotalamus, hipotalamus melepaskan RF/RH FSH yang kemudian disekresi oleh hipofisa dan mengirimkannya ke adenohipofisa sehingga akan meningkatkan FSH yang akan mempengaruhi perkembangan folikelpeningkatan hormon FSH membuat hormon LH juga naik untuk menyeimbangkan. Sehingga ketika konsentrasi hormon estrogen naik, maka FSH naik, serta LH naik dengan sendirinya.  Hal ini sesuai dengan pendapat Partodiharjo (1982) bahwa Umpan balik positif adalah LH (Luteinizing Hormone) yang ikut merangsang produksi estrogen, setelah kadar estrogen meninggi dalam darah produksi LH menjadi meningkat, LH akhirnya menyebabkan ovulasi. Praseno et, all., (2003) menambahkan bahwa kontrol sekresi dengan mekanisme umpan balik positif salah satunya adalah sekresi hormon seks dimana keberadaannya harus tetap stabil di dalam tubuh hewan karena tanda-tanda seks sekunder harus tetap terpelihara selama hewan tersebut hidup, kehadiran hormon estrogen maupun endrokrin tetap stabil pada hewan betina dan jantan , tercapainya target regulasi hormon tersebut akan memacu sekresi hormon LH oleh hipofisis agar sekresi hormon estrogenik atau endrogenk tetap terpelihara, stabilitas tersebut mengakibatkan stabilitas tanda seks sekunder.
    2.2.2    Feedback mechanism negatif
    Mekanisme umpan balik negatif adalah mekanisme yang terjadi ketika hormon sasaran naik tetapi hormon perangsang turun. Mekanisme umpan balik negative terjadi setelah berkembangnya folikel menjadi folikel de Graaff. Folikel de Graaff merupakan folikel yang matang dan siap untuk proses ovulasi. Proses ovulasi menghasilkan ovum, ketika ternak bunting maka hormon progesteron naik, ketika hormon progesteron naik maka ada proses penghantaran impuls ke hipotalamus. Hipotalamus menghasilkan IH-FSH yang menyebabkan turunnya sekresi FSH, selain menghasilkan IH-FSH hipotalamus juga menghasilkan IH-LH yang menyebabkan menurunnya sekresi LH.  Menurut pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa pengaturan sekresi hormon-hormon sangat berbeda-beda dan dapat meliputi beberapa mekanisme, yang pertama adalah “mekanisme umpan balik negatif”, Negatif feedback mechanism atau servo mechanism yang terutama meliputi hormon tropik dari kelenjar hipofisa dan hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar sasaran. Praseno et, all., (2003) yang menyatakan sebagian besar sekresi hormon dikendalikan dengan mekanisme umpan balik negatif, selesainya atau tercapainya target regulasi suatu hormon merupakan inhibitor sekresi hormon tersebut.
    BAB III
    SIMPULAN DAN SARAN
    3.1.      Simpulan
    Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa di dalam organ kepala ayam terdapat beberapa bagian yang berfungsi sebagai organ pengendali tubuh ternak. Pertama Ventrikel, kedua Hipotalamus, ketiga Hipofisa. Ventrikel I berfungsi sebagai pusat penglihatan dan penciuman.  Ventrikel II berfungsi sebagai pusat pendengaran dan perasa. Ventrikel III berfungsi sebagai pusat koordinasi. Ventrikel IV berfungsi sebagai pusat keseimbangan. Hipotalamus yang berfungsi sebagai pengatur atau mengotrol semua kerja hormon. Hipofisa berfungsi untuk mensekresikan berbagai macam hormone. Mekanisme umpan balik dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu mekanisme umpan balik positif dan mekanisme umpan balik negatif. Mekanisme umpan balik positif adalah mekanisme yang terjadi saat hormon sasaran naik dan hormon perangsang juga ikut naik. Mekanisme umpan balik negatif adalah mekanisme yang terjadi ketika hormon sasaran naik tetapi hormon perangsang turun.
    3.2.      Saran
    Praktikum ini harus dilakukan secara teliti agar dapat mengerti dan memahami bagian-bagian dari kelenjar endokrin.
    DAFTAR PUSTAKA
    Campbell, N.A., J.B. Reece., dan L.G. Mitchell. 2004. Biologi. Erlangga, Jakarta.
    Hernawati. 2007. Aspek fisiologis kelenjar endokrin. FMIPA UPI, Bandung.
    Japardi. I. 2002. Tumor Ventrikel.USU Digital library.
    Musana.D.K. 2010.Enchepalan dan Nern Cranialis.Yogjakarta.Presentasi Kuliah Pengantar 6 April 2010 Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
    Muttaqim, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistim    Persyarafan. Salemba Medika. Jakarta.
    Partodihardjo, S. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta
    Praseno, K., Isroli, B. Sudarmoyo. 2003. Fisiologi Ternak. Universitas Diponegoro, Semarang.
    Toelihere, M.R. 1992. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung.
    BAB I
    MATERI DAN METODE
    Praktikum Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Ternak dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 19 April 2013 pada pukul 07.00-09.00 WIB di Laboratorium Ilmu Genetika, Pemuliaan dan Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
    1.2.            Materi
                Alat yang digunakan dalam praktikum Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Ternak yaitu nampan yang berfungsi untuk tempat peletakkan organ reproduksi jantan dan betina baik itu organ reproduksi sapi, domba dan babi; dan alat tulis untuk menggambar organ reproduksi jantan dan betina, juga digunakan untuk menulis keterangan dan bagian yang ada pada organ reproduksi jantan dan betina. Bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah organ reproduksi jantan ternak sapi dan babi, dan organ reproduksi betina  ternak sapi, domba dan babi.
    1.2.      Metode
    Metode yang digunakan dalam praktikum Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Ternak adalah mengamati saluran reproduksi baik itu jantan dan betina pada ternak sapi, domba dan babi, menggambar hasil pengamatan dalam buku praktikum, menjelaskan letak serta fungsi saluran reproduksi pada ternak jantan maupun betina.
    BAB II
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    2.1.      Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Jantan
                Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
    4
    2
    3
    1

    5
    2
    4
    3
    1

    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Toelihere, 1981.
    1
    2
    3
    4

    5
    2
    1
    4

    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Toelihere, 1981.
                                        Ilustrasi 3.Anatomi Organ Reproduksi Jantan
    Keterangan : 1. Testis; 2. Epididymis; 3. Vas deferens; 4. Kelenjar asesories a.vesicularis, b. Prostata, c. Cowper; 5. Penis
               
    Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa organ reproduksi ternak jantan meliputi testis, epididimis, vasdeferens, ampula, kelenjar aksesoris, uretra dan penis. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa organ reproduksi ternak jantan meliputi testes, epididimis, scrotum, vasdeferens dan ampula, glandula vesiculares, kelenjar prostat dan cowper, uretra dan penis. Penis merupakan alat reproduksi bagian luar ternak yang berfungsi untuk pengeluaran urine dan peletakkan semen pada saluran reproduksi ternak betina. Menurut pendapat  Blakely and Bade (1991) bahwa sistem reproduksi sapi jantan dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu testes yang juga disebut gonad, testikel atau organ primer, kelenjar kelamin sekunder atau kelenjar aksesoris dan organ kopulasi eksternal yaitu penis.
    2.1.1.   Testis
                Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa testis pada ternak jantan memiliki fungsi untuk menghasilkan hormone testosterone dan menghasilkan sel sperma. Testis berbentuk bulat, terbungkus oleh skrotum dan memiliki tekstur padat tetapi tidak keras. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa testes terletak didaerah prebubis dan terbungkus oleh skrotum, pada keadaan normal, kedua testis adalah besar dan berjumlah sepasang. Mempunyai konsistensi padat akan tetapi tidak keras dan dapat dengan bebas bergerak ke atas dan kebawah didalam skrotum.Ditambahkan oleh Blakely and Bade (1991) bahwa testes terletak didalam skrotum yang merupakan suatu struktur untuk mengatur panas didalamnya. Dalam perkembangan yang normal, testis berfungsi dengan cara memproduksi sperma didalam tubulus konvolusi (saluran berkelok) yang sangat kecil yang membentuk keseluruhan struktur testis. Testis terbentuk karena adanya struktur tunika albugenia, septum testis, duktus fungsi, testis efferentis, caput epididimis, corpus epididimis, cauda epididimis, dan vas deferens.
    2.1.2.   Epididimis
                Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa fungsi dari epididimis adalah sebagai tempat penyimpanan spermatozoa, transportasi, konsentrasi sperma, maturasi, dan reabsorbsi. Menurut Toelihere (1981) epididimis merupakan suatu struktur memanjang yang bertaut rapat dengan testis. Mengandung ductus epididimis yang sangat berliku-liku dan panjang mencapai 40 meter pada jantan dewasa, kurang lebih 60 meter pada babi dan 80 meter pada kuda.Epididimis terdiri atas kepala, badan dan ekor. Selain itu epididimis memiliki fungsi utama sebagai transport, konsentrasi, maturasi dan penyimpanan sperma. Ditambahkan oleh Blakely and Bade (1991) bahwa epididimis memiliki 4 fungsi yaitu pengangkutan, penyimpanan, pemasakan dan pengentalan (konsentrasi sperma). Struktur ini yang panjangnya diperkirakan sekitar 40 meter berperan untuk menyalurkan sperma dari testes ke kelenjar kelamin aksesoris.
    2.1.3.   Vas Deferens
    Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa vas deferens berfungsi sebagai alat transportasi spermatozoa. Mengalirkan sperma dari bagian ekor epididimis kedalam ampula. Menurut pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa vasdeferens mengangkut sperma dari ekor epididimis ke uretra, dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam mekanisasi pengangkutan semen waktu ejakulasi. Partodiharjo (1982) menambahkan bahwa vasdeferens terlentang mulai dari ekor ductus epididimis sampai ke uretra, dindingnya tebal mengandung serabut-serabut urat daging licin, dan diameter lumennya 2mm.
    2.1.4. Kelenjar Asesories
    Accessories gland / kelenjar asasories terdiri dari kelenjar vesikularis, kelenjar prostata, dan kelenjar cowper. Kelenjar Vesikularis, Kelenjar vesicular seminalis dapat bersekresi dengan mudah di post mortern dan merupakan suatu cairan keruh dan lengket. Sekresi tersebut mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa enzim. Toelihere (1981) menyatakan bahwa kelenjar vesikularis terdapat sepasang pada sapi jantan, lobulasinya berada didalam lipatan-lipatan urogenital lateral dari ampula. Kelenjar-kelenjar vesiculares berbeda-beda dalam ukuran dan lobulasi antara individu hewan. Pada sapi kelenjar tersebut berukuran panjang 10 sampai 15 cm dan diameter 2 sampai 4 cm. Saluran sekretori dari lobuli membentuk satu saluran ekskretoris utama yang terletak pada pertengahan kelenjar dan membentang ke kaudal dibawah kelenjar prostata. Setiap saluran ekskretoris bersatu dengan vas deferens pada jalan keluarnya ke uretra membentuk dua ostia ejaculatoria. Hubungan anatomik antara ampula dan kelenjar vesiculares berbeda-beda antara individu dalam bangsa hewan yang sama. Rianto dan Purbowati (2009) menambahakan bahwa kelenjar vesikularis jumlahnya sepasang, jelas  lobulasinya dan berada didalam lipatan lateral ampula.
    Kelenjar Prostat, Kelenjar prostate berfungsi sebagai kontribusi cairan dan ion anorganik terhadap semen. Sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) Kelenjar prostate sapi mengelilingi uretra dan terdiri dari dua bagian yaitu badan prostate (corpus prostatae) dan prostate disseminate atau prostate yang cryptic (pars disseminate prostatae). Badan prostate berukuran lebar 2,5 sampai 4 cm dan tebal 1,0 sampai 1,5 cm. Pars disseminata mengelilingi uretra pelvis. Ditambahkan oleh Partodiharjo (1980) yang menyatakan bahwa Kelenjar prostate merupakan sumber anta glutinin. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang mengandung mineral yang berkadar tinggi.
    Kelenjar Cowper, Terdapat sepasang, berbentuk bundar, berselubung dan tebal. Fungsi kelenjar cowper adalah membersihkan dan menetralisir uretra dari bekas urin dan kotoran-kotoran lain sebelum ejakulasi berlangsung. Hal ini sesuai denga pendapat Partodiharjo (1980) yang menyatakan bahwa kelenjar cowper mengeluarkan cairan yang disalurkan ke penis. Semua kelenjar accessoris bersifat apokrine, artinya sebagian dari isi sel sekretorisnya ikut keluar pada saat sel itu mengeluarkan eksresinya. Ditambahkan oleh Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa kelenjar cowper terdapat sepasang, berbentuk bundar, kompak, berselubung tebal. Terletak di atas uretra dekat jalan keluarnya dari cavum pelvis.
    2.1.5.   Penis
                Penis mempunyai tugas yaitu pengeluaran urin dan perletakan semen kedalam saluran reproduksi betina. Penis terdiri dari kepala, badan dan ekor yang berakhir pada gland penis. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa penis membentang kedepan dari arcus ishciadicus pelovis sampai ke daerah umbilicus pdaa dinding ventral perut.Penis ditunjang oleh vaskia dan kulit. Badan penis terdiri dari corpus cavernosum penis yang relative besar diselaputi oleh suatu selubung fibrosa tebal berwarna putih, tunica albuginea. Tomaszeskwka et al., (1991) menambahkan bahwa penis bentuknya kurang lebih silinder pada semua spesies ternak. Penis memanjang kedepan dari ischial arch kedaerah umbilical pada dinding perut dan disokong oleh fascia penis dan kulit. Didepan skrotum, penis terletak didalam prepusium.Bagian ujung penis disebut glands penis yang terletak bebas didalam prepusium.
    2.2.      Perbedaan Organ Reproduksi jantan pada Sapi, Babi dan Domba
                Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
    Penis Sapi
    Penis Babi
    Penis Domba
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Ilustrasi 4. Perbedaan Organ Reproduksi Jantan
                Perbedaan organ reproduksi jantan pada sapi dan babi terletak pada bagian penis. Penis babi berbentuk berkelok, bagian kepala agak runcing dan menyesuaikan dengan vagina betina. Penis sapi dan domba bentuknya tidak berkelok, serta bagian kepala tumpul dan menyesuaikan bentuk vagina. Ukuran penis sapi lebih kecil dibandingkan dengan ukuran penis babi. Menurut pendapat Toelihere (1979) yang menyatakan bahwa ukuran penis babi yaitu sekitar 45-55 cm sedangkan ukuran penis sapi sekitar 15-35 cm. Tomaszewska et al. (1991) menambahkan bahwa penis sapi mempunyai lekukan berbentuk sigmoid dibagian belakang atas skrotum, sedangkan pada babi mempunyai lekukan sigmoid didepan skrotum. Lekukan sigmoid ini akan hilang dan berubah menjadi lurus apabila terjadi ereksi.
    2.3.      Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Betina
    Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil sebagai berikut :
    1
    2
    3
    4
    5
    1
    2
    3
    4
    5

    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Toelihere, 1981.
    1
    2
    3
    4

    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Toelihere, 1981.
    1
    2
    3
    4
    5

    1
    2
    3
    4
    5

    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Toelihere, 1981.
    Ilustrasi 5. Perbedaan Organ Reproduksi Betina
    Keterangan: 1. Ovarium; 2. Oviduct;3. Uterus; 4. Serviks; 5. Vagina; 6. Vulva
    2.3.1.   Ovarium
                Ovarium berada di cavum abdominasi yang berfungsi sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum, selain itu ovarium berfungsi untuk memproduksi hormone estrogen dan progesterone. Menurut Kartodihardjo (1982) yang menyatakan bahwa ovarium merupakan alat kelamin yang utama, ovarim menghasilkan telur oleh karena itu dalam bahasa Indonesia sering kali disebut induk telur. Indung telur atau ada pula yang memberi nama pangarang telurOvarium terdiri dari medulla dan cortex, dikelilingi oleh epitel kecambah dan pada umumnya bertambah berat 4-7 kali berat sewaktu lahir pada waktu hewan menjelang pubertas.Medulla ovary terdiri dari jaringan ikat fibrio elastic yang tidak teratur dan sistem syaraf serta pembuluh darah yang memasuki ovarium melalui hilus (pertautan antara ovarium dan mesovarium), cortex mengandung folikel-folikel ovary, bakat-bakat dan hasil akhirnya.Cortex merupakan tempat pembentuk ovum dan hormon. Hal itu sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1982), bahwa ovarium digantung oleh alat penggantung mesovarium dan ligamentum utero ovarika.Pada sapi dan domba, ovarium berbentuk oval sedangkan pada babi ovarium berupa gumpalan anggur, folikel – folikel dan corpora lutea menutupi jaringan-jaringan ovarial dibawahnya.dan hasil akhirnya. Cortex merupakan tempat pembentuk ovum dan hormone.Menurut Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa bentuk dan ukuran ovarim pada ternak berbeda-beda menurut spesies dan siklus birahi. Menurut Hafez (1972) ovarium, tidak seperti testis, tetap dalam rongga perut. Ini performans kedua eksokrin dan sebuah fungsi endokrin. Bentuk dan ukuran ovarium pada sapi dan domba ovarium ini berbentuk almond.Pada babi ovarium menyerupai sekelompok anggur, folikel nyata menonjol dan corpora lutea.
    2.3.2.   Oviduk
                Oviduk berfungsi sebagai alat transportasi antara gamet jantan dan betina (spermatozoa dan ovum), selain itu oviduk sebagai tempat fertilisasi. Menurut Toelihere (1981) menyatakan bahwa oviduk merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku, dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya.Panjang dan derajat liku-likunya berbeda-beda menurut spesies. Antara ovarium dan oviduk terdapat suatu hubungan anatomik yang intim walaupun tidak bersambung dalam arti kata yang sebenarnya. Oviduk tergantung dalam mesosalpinx, ia dapat dibagi atas infundibulum dengan infimbriaenya, ampula dan istmus. Menurut Hafez (1993) yang menyatakan bahwa Oviduct sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu infundibulum, ampula, dan isthmus. Pada masing-masing bagian memiliki keunikan tersendiri, seperti misalnya bagian infundibulum, bagian ujung infundibulum terdapat jumbai-jumbai yang disebut fimbria. Bagian isthmus dengan ampula dibatasi oleh suatu ampulari ismic junction yang berperan dalam pembuahan, sedangkan batas antara isthmus dengan uterus adalah uteri tubal junction.
    2.3.3.   Uterus
                Uterus berfungsi untuk mempertahankan embrio, serta pertumbuhan embrio sampai masa kelahiran. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa uterus memiliki sejumlah fungsi. Sewaktu perkawinan kerja kontraksi uterus mempermudah pengangkutan sperma ke tuba falopii. Uterus sanggup menjalani perubahan-perubahan besar dalam ukuran struktur dan posisi agar dapat menampung kebutuhan konseptus yang bertumbuh. Uterus dan ovarium memiliki hubungan kerja timbal balik dimana corpus luteum merangsang uterus untuk menghasilkan suatu substansi dan sebaliknya melisiskan corpus luteum. Substansi luteolitik ini yang dibentuk oleh endometerium, adalah prostaglandin F2α yang berdifusi dari vena uterus langsung ke dalam arteri ovarim, jadi adanya uterus penting untuk regresi corpus luteum secara normal. Tomaszewska (1991) menambahkan bahwa uterus terdriri atas bagian-bagian badan yang pendek 3-4 cm dan 2 cornua (tanduk) yang menggulung dengan panjang kira-kira 10 cm. kedua cornua kelihatannya ak lebih panjang. Uterus digambarkan terdiri dari indometrium yaitu mucosa dan sub mucosa, mio metrium/lapisan urat daging dan perimetrium/serosa yaitu sebuah membran yang terus menjadi ligamentum lebar.
    2.3.4.   Serviks
                Serviks berfungsi untuk menghindari kontaminasi mikroba terhadap uterus, penyimpanan sprerma yang telah masuk dan sebagai alat transportasi spermatozoa. Toelihere (1981) menyatakan bahwa serviks adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke caudal kedalam vagina.Ia dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen yang merapat walaupun struktur servik yang berbeda antar ternak mamalia, dindingnya ditandai oleh berbagai penonjolan- penonjolan. Pada ruminansia penonjolan ini terdapat bentuk lereng transfersal dan saling menyilang disebut cincin anular. Tomaszewska (1991) menambahkan bahwa mukosa pada serviks mempunyai epitel columnar tinggi dengan banyak sel goblet. Mukosa ini menghasilkan musin. Lendir dari serviks menjadi lebih cair pada waktu birahi dan membentuk sumbatan selama bunting. Mukosa serviks terbentuk dari lipatan-lipatan melingkar (gelaang-gelang) sehingga membentuk legokan dalam sehingga kelihatan seperti kelenjar tetapi tidak terdapat kelenjar pada serviks. Fungsi serviks adalah menutp lumen uterus sehingga tak member kemungkinan untuk jasad miroskopik maupan makrokospik ke dalam uterus (Partodiharjo, 1982).
    2.3.5.   Vagina
                Sebagai tempat kopulasi dan saluran kelahiran.Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa vagina merupakan organ kelamin betina dengan struktur selubung muscular yang terletak di dalam rongga dorsal dari vesika urinaria, dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi foetus sewaktu. Vagina mempunyai kesanggupan berkembang yang cukup besar. Dinding vaginaterdiri dari mukosa, muskularis dan serosa. Ditambahkan oleh Tomaaszewska (1991) yang menyatakan bahwa vagina dan vestibula terletak dalam pelvis. Keduanya terletak memanjang dari depan dari mulut serviks luar sampai kebelakang pada vulva. Vagina merupakan bagian dari saluran alat kelamin yang memanjang dari mulut serviks luar sampai tepat di bagian depan (cranial) dari munculnya ureter. Vagina terbagi atas bagian vestibulum yaitu bagian kesebelah luar yang berhubungan dengan vulva dan portio vaginalis cervicis yaitu bagian kesebelah serviks bats dari kedua bagian itu ialah tepat ke cranial, daripada munculnya uretra. Jadi muara uretra itu ikut vertibulum vagina (Partodiharjo, 1982).
    2.3.6.   Vulva
                Didalam vulva terdapat klitoris yang akan bereaksi pada waktu kopulsi, bagian luar organ reproduksi betina. Menurt pendapat Toelihere (1981) bahwa labia atau vulva secara normal selalu berdampingan tidak menganga dan lubang vulva terletak tegak luru terhadap lantai pelvis. Dinding labia majora banyak mengandung kelenjar-kelenjar sebaseus dan tubuler, deposit-deposit lemak, jaringan elastik dan selapis tipis otot licin yang mempunyai struktur permukaan luar yang sama seperti kulit. Ditambahkan oleh Tomaszewska (1991) yang menyatakan bahwa labia vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran reproduksi. Labia dan again sentral tepat di sebelah dalam lubang luar ureter terdapat klistoris (homolog dengan penis pada jantan). Klistoris kecil tapi mempnyai krura seperti halnya pada jantan, dan akan bereksi pada waktu kopulasi.
    2.4.      Perbedaan AOR Ternak Betina Pada Sapi, Domba dan Babi
                Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
    Ovarium Sapi
    Uterus Sapi
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Ovarium Domba
    Uterus Domba
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Ovarium Babi
    Uterus Babi
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Ilustrasi 6. Perbedaan Anatomi Organ Reproduksi Betina
    Berdasarkan hasil pengamatan anatomi organ reproduksi betina pada sapi dan babi diperoleh hasil bahwa pada ukuran organ reproduksi  betina pada sapi lebih kecil dari pada ukuran organ reproduksi pada babi. Ovarium babi berkelok-kelok sedangkan pada sapi dan domba tidak berkelok-kelok. Babi memiliki ovarium berkelok-kelok karena memiliki folikel yang banyak.Sedangkan pada sapi hanya memiliki satu folikel.Serviks pada sapi tidak terlalu kuat dan tebal karena hanya dapat menghasilkan satu anak, sedangkan pada babi memiliki serviks yang tebal dan kuat karena dapat memiliki jumlah anak yang banyak.Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa bentuk dan ukuran ovarium berbeda-beda menurut spesies dan siklus birahi pada sapi dan domba ovarium berbentuk oval, sedangkan pada babi ovarium bagaikan setangkai buah anggur karena banyaknya folikel corpora lutea.Menurut Hafez (1972) Sapi dan domba memiliki tipe uterus bipartitus.dangkal tubuh rahim pada sapi dan domba tampak lebih besar daripada sebenarnya bisa karena bagian-bagian ekor dari tanduk terikat bersama oleh ligamentum intercounal. Pada ruminansia, tanduk uterus secara khusus berkembang dengan baik karena ini adalah di mana janin berada.Bentuk serviks pada sapi dan domba yaitu berbentuk spiral.Pada sapi, spiral ini berbentuk seperti cincin dan terdiri dari empat buah.Sedangkan pada Babi bentuknya seperti pembuka botol (setengah spiral).
    BAB III
    SIMPULAN DAN SARAN
    3.1       Simpulan
    organ reproduksi ternak jantan meliputi testis, epididimis, vasdeferens, ampula, kelenjar aksesoris, uretra dan penis. anatomi organ reproduksi betina pada sapi dan babi pada ukuran organ reproduksi  betina pada sapi lebih kecil dari pada ukuran organ reproduksi pada babi. Ovarium babi berkelok-kelok sedangkan pada sapi dan domba tidak berkelok-kelok. Babi memiliki ovarium berkelok-kelok karena memiliki folikel yang banyak.Sedangkan pada sapi hanya memiliki satu folikel .Serviks pada sapi tidak terlalu kuat dan tebal karena hanya dapat menghasilkan satu anak, sedangkan pada babi memiliki serviks yang tebal dan kuat karena dapat memiliki jumlah anak yang banyak.
    3.2       Saran
    Praktikum ini harus dilakukan secara teliti agar dapat mengerti dan memahami bagian-bagian dari anatomi dan fisiologi organ reproduksi.
                
    DAFTAR PUSTAKA
    Blakely, J. and Bade, D. 1998. Ilmu Peternakan Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
    E.S.E.Hafez. 1972. Reproduction in Farm Animal (second edition). Washington State University Pullman, Washington
    Partodihardjo,S. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara, Jakarta.
    Toelihere, Mozes, R. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa,   Bandung  (diterjemahkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan, IPB).
    Tomaszewska, M.W., I.K. Sutama., I.G. Putu., dan T.D. Chaniago. 1991. Reproduksi, Tingkah Laku, dan Produksi Ternak di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
    BAB I
    MATERI DAN METODE
    Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak dengan materi Sel Gamet dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 26 april 2013 pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium Ilmu Genetika, Pemuliaan dan Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.
    1.1.            Materi
    Alat yang digunakan adalah mikroskop untuk mengamati sel spermatozoa, kaca preparat digunakan untuk tempat pengamatan sel spermatozoa dan alat tulis untuk menggambar sel spermatozoa. Sedangkan bahan yang digunakan adalah semen beku untuk diamati sel spermatozoa.
    1.2.            Metode
    Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah mengambil semen beku dari container, mencairkan kedalam air bersuhu 27°C selama 29 detik, mengambil dengan menggunakan pinset, menempatkan ke dalam tabung reaksi, menyiapkan sel spermatozoa, menempatkannya diatas kaca preparat, diamati dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000x.

    BAB II
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    2.1.      Spermatogenesis
                Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa spermatogenesis adalah proses pembentukan sperma. Spermatogenesis diawali dari spermatogonium mengalami pembelahan mitosis menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer mengalami pembelahan meiosis menjadi spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder mengalami pembelahan meiosis menjadi spermatid. Spermatid mengalami proses maturasi (pematangan) menjadi sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Praseno (2003) yang menyatakan bahwa spermatogenesis merupakan proses diferensiasi spermatogonium sehingga dihasilkan sel spermatozoon. Proses ini terjadi dalam tubulus contortus seminiferus bersifat hormonal dan melalui beberapa tahap yaitu tahap prolirefatif, tahap pertumbuhan dan tahap metamorphosis. Proses spermatogenesis dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kualitas dan kuantitas pakan, hormone dan kondisi lingkungan. Spermatogenesis esensinya adalah pembentukan sel, dengan demikian kandungan protein atau asam amino pakan merupakan hal sangat penting. Frandson (1996) menambahkan bahwa spermatogenesis merupakan serangkaian tahapan dalam pembentukan spermatozoa yang terdiri dari spermatogonia yang jumlahnya bertambah secara mitosis (pembelahan sel yang menghasilkan anakan, hasil pembelahan memiliki sel yang jumlah kromosom maupun gen sama dengan induknya), spermatosit primer yang dihasilkan oleh spermatogonia yang mengalami pembelahan miosis (pembelahan sel yang menghasilkan sel anakan yang jumlah kromosom dan gen 0,5 dari sel induk), dua spermatosit sekunder yang terbentuk dari masing-masing spermatosit primer terbagi secara mitosis menjadi empat spermatid, dan masing-masing spermatid mengalami serangkaian perubahan nucleus dan sitoplasma (sperrmiogenesis) dari sel yang bersifat non motil menjadi sel motil (sel yang mampu bergerak) dengan membentuk flagellum (ekor) untuk membentuk spermatozoa.
    2.2.      Sel Gamet Jantan
    Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    http://planetsehat.com
    Ilustrasi 7 Sel Gamet Jantan
    Berdasarkan hasil praktikum yang didapat bahwa sperma pada dasarnya terdiri atas bagian kepala, badan, dan ekor. Bagian kepala tersusun atas membrane plasma yang berfungsi melindungi bagian dalam sperma, akrosom untuk mensekresi enzim hyaluronidase dan akrosin, sitoplasma untuk sumber protein, dan nukleus untuk mengatur aktifitas sperma dan informasi genetik (DNA). Pusat kepala sperma terdapat inti sperma yang berfungsi untuk menyimpan sejumlah kode genetik yang akan diwariskan kepada keturunannya. Bagian belakang kepala sperma terdapat bagian tengah sperma (leher) yang menyimpan mitokondria. Mitokondria sangat penting dalam pembentukan ATP yang merupakan sumber energi sperma. Bagian badan tersusun atas sentriol dan terminal disc sebagai indikasi kematangan sperma (jika matang, cincin sentriol akan terlepas dan diabsorbsi kembali), mitokondria untuk produksi ATP (sumber energi bagi sperma). Bagian ekor berfungsi sebagai alat gerak sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa kepala spermatozoa berbentuk oval memanjang, lebar dan datar, kepala sperma terisi sepenuhnya dengan materi inti, kromosom, terdiri dari DNA (Deoxyribonucleic Acid) yang bersenyawa dengan protein. Informasi genetic yang dibawa oleh spermatozoa diterjemahkan dan disimpan didalam molekul DNA yang tersusun oleh banyak nukleotida. Ekor sperma yang panjang 40-50 mikron dapat dibagi atas 3 bagian, bagian tengah, bagian utama dan bagian ujung dan berasal dari sentrio spermatid selama spermigenesis. Ia member gerak maju kepada spermatozoa dengan gelombang-gelombang yang dimulai didaerah implantasi ekor sampai kepala dan berjalan kearah distal sepanjang ekor bagaikan pukulan cemeti. Sperma yang membawa kromosom x akan menghasilkan embrio betina, sedangkan kromosom yang mengandung kromosom y akan menghasilkan embrio jantan. Sperma yang diawetkan menggunakan straw dalam container harus disimpan dalam kondisi suhu dibawah -100ºC untuk membuat sperma dorman. Blakely dan Bade (1991) menyatakan bahwa sperma yang disimpan dalam container yang suhu dalamnya dipertahankan sangat rendah yaitu -194ºC dengan bantuan nitrogen cair. Satu tangki yang dimanfaatkan untuk keperluan dilapangan dapat menyimpan 600 atau 1200 straw palstik yang berisi semen yang telah diproses yang telah diencer. Apabila container penyimpanan itu diisi kembali dengan nitrogen cair tiap 60-90 hari maka cara simpan ini dapat mengawetkan semen untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Satu ampul atau straw plastik digunakan setiap kali inseminasi dan masing-masing mengandung sedikitnya 10.000 sel seprma yang hidup.
    2.3.      Perbedaan Sperma pada Sapi, Kambing dan Ayam
    Berdasarkan data praktikum diperoleh hasil sebagai berikut :
    Sel sperma sapi
    Sel sperma kambing
    Sel sperma ayam
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Ilustrasi 8. Gambar sel sperma jantan
    2.4.      Oogenesis
    Oogenesis adalah proses pematangan ovum dalam ovarium. Sesuai dengan pendapat Carlson (1999) yang menyatakan bahwa oogenesis merupakan proses pematangan ovum didalam ovarium yang hanya dapat menghasilkan satu ovum matang sekali waktu. Oogenesis terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap proliferasi, tahap pertumbuhan dan tahap pematangan. Sel oogonium akan mengadakan proliferasi secara mitosis sehingga dihasilkan beberapa sel oogonium (diploid). Sel oogonium ini kemudian akan membelah dan bertumbuh sehingga dihasilkan oosit primer (diploid) dan polosit, oosit primer tumbuh membesar. Oosit primer akan berkembang menjadi oosit sekunder (haploid) dan polosit. Oosit sekunder akan berkembang menjadi ootid (haploid). Semua polosit yang terbentuk akan mengalami atresia atau autolysis. Proses pematangan akhir menjadi ovum terjadi setelah bakal ovum tersebut mengalami ovulasi. Ovulasi adalah keluarnya ovum dari orvarium, dan kemudian masuk dalam duktus ovary. Proses ini juga merupakan proses hormonal, beberapa hormone antyara lain hormone LH dan estrogenik mempengaruhi proses ovulasi tersebut. Praseno et al. (2003) menyatakan bahwa oogenesis merupakan proses produksi ovum oleh ovarium atau kortek ovary.
    Proses oogenesis adalah sebagai berikut, sel benih primordial segera berdiferensiasi menjadi oogonium. Oogonium kemudian mengalami beberapa kali mitosis, oogonium terus mengalami mitosis, sebagian lain berdiferensiasi dan tumbuh membesar menjadi oosit primer. Oosit primer kemudian mengadakan meiosis dan menghasilkan oosit sekunder dan badan polar. Oosit sekunder yang telah di fertilisasi mengalami meiosis kedua, pada meiosis kedua oosit sekunder menjadi bersifat haploid yang di sebut ootid, setelah itu ootid menjadi ovum yang matang. Pendapat diatas sesuai dengan Campbell (2004) yang menyatakan proses oogenesis bermula dari oogonium yang berada dalam folikel diovarium. Oogonium berubah menjadi oosit primer yang kemudian melakukan meiosis dan menghasilkan dua sel anak yang berbeda ukuran. Sel anak yang leih besar adalah oosit sekunder dan yang lebih kecil adalah badan polar. Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba falopii. Apabila oosit sekunder difertilisasi, maka akan mengalami pembelahan meiosis yang kedua. Begitu pula dengan badan polar pertama membelah menjadi dua badan polar kedua yang akhirnya mengalami degenerasi. Apabila tidak terjadi fertilisasi siklus akan diulang kembali. Selama pembelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi bersifat haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut ootid. Ketilka inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu, saat itu juga ootid mencapai perkembangan finalnya menjadi ovum yang matang. Menurut pendapat Frandson (1996), proses oogenesis dimulai dari oogonium kemudian membelah secara mitosis menjadi oosit primer, lalu membelah lagi menjadi oosit sekunder secara meiosis primer, kemudian meiosis sekunder menjadi ootid dan 1 badan polar dan terakhir yaitu membelah menjadi 1 ovum dan 2 badan polar. Sehingga hasil akhir dari oogenesis yaitu 1 ovum dan 3 badan polar, untuk badan polar ini akan diserap oleh tubuh kembali. Ditambahkan oleh Williamson and Payne (1993) yang menyatakan bahwa proses meiosis pada hewan betina sama seperti jantan dengan pengecualian sel germinativum primer atau ovasit membentuk satu ovasit sekunder dan 1 badan polar yang tidak berfungsi. Ovasit sekunder dan badan polar kemudian membelah dengan proses mitosis, ovasit menghasilkan ovum atau telur dan badan polar tambahan dan badan polar pertama menghasilkan 2 badan polar. Ovum yang dihasilkan mampu dibuahi oleh sperma dan badan polar nampaknya tidak berfungsi dan diserap oleh tubuh.
    2.5.      Sel Gamet Betina
    Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    http://nulisonline.wordpress.com
    Ilustrasi 9 Sel Gamet Betina
    Ovum merupakan hasil dari proses oogenesis dari organ utama reproduksi betina yaitu ovarium. Menurut pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa sel gamet betia disebut juga sel telur, sel ini diproduksi didalam folikel yang terdapat didalam ovarium. Sel telur berkembang seiring dengan perkembangan folikel. Dibawah pengaruh hormone-hormon gonadotropin FSH dan LH, folikel-filkel vesikuler bertumbuh dan berkembang. Perkembangan ini terjadi pada masa foetal, paa waktu menjelang masa pubertas, dan selama masa kebuntingan. Menurut Hardjopranjoto (1995) jumlah sel telur ovum dapat mencapai berjuta-juta namun akan berkurang karena proses degenerasi.
    2.6.      Tipe-Tipe Ovum
                Berdasarkan  data praktikum diperoleh hasil sebagai berikut :
    Sel ovum tipe A
    Sel ovum tipe B
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu  Reproduksi Ternak, 2013.
    Sel ovum tipe C
    Sel ovum tipe D
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
    Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
    Ilustrasi 10Gambar Sel Ovum tipe A, B, C dan D
                Berdasarkan hasil foto sel ovum yang diamati didapatkan bahwa sel ovum berada di dalam folikel-folikel kecil. Dalam hasil pengamatan di foto sel ovum dapat dibedakan menjadi 4 tipe yaitu tipe A, B, C, dan D, dari masing-masing tipe memiliki perbedaan, dan perbedaan tersebut terletak pada jumlah bolus-bolus kecil yang disebut cumulus oophorus. Untuk tipe A jumlah cumulus oophorus lebih dari 6 lapisan, tipe B 4 sampai 6 lapisan, tipe C 2 sampai 4 lapisan dan tipe D kurang dari 2 lapisan.
    BAB III
    SIMPULAN DAN SARAN
    3.1.      Simpulan
                Berdasarkan hasil praktikum spermatogenesis adalah proses pembentukan sperma. Proses spermatogenesis dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kualitas dan kuantitas pakan, hormone dan kondisi lingkungan. Spermatogenesis esensinya adalah pembentukan sel, dengan demikian kandungan protein atau asam amino pakan merupakan hal sangat penting. Oogenesis merupakan proses pematangan ovum didalam ovarium yang hanya dapat menghasilkan satu ovum matang sekali waktu. Oogenesis terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap proliferasi, tahap pertumbuhan dan tahap pematangan. sel ovum dapat dibedakan menjadi 4 tipe yaitu tipe A, B, C, dan D, dari masing-masing tipe memiliki perbedaan, dan perbedaan tersebut terletak pada jumlah bolus-bolus kecil yang disebut cumulus oophorus. Untuk tipe A jumlah cumulus oophorus lebih dari 6 lapisan, tipe B 4 sampai 6 lapisan, tipe C 2 sampai 4 lapisan dan tipe D kurang dari 2 lapisan.
    3.2.      Saran
    Praktikum ini harus dilakukan secara teliti agar dapat mengerti dan memahami bagian-bagian dari sel gamet
    DAFTAR PUSTAKA
    Blakely, J and D. H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).
    Campbell, Neil A. 2004. Biologi Jilid 3, Edisi ke 5. Erlangga. Jakarta.
    Frandson. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Penerjemah : Srigandono dan Koen Praseno.
    Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press, Surabaya.
    Praseno, K., Isroli, dan B. Sudarmoyo. 2003. Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Program D3 Manajemen Usaha Peternakan. Semarang.
    Toelihere, M. R. 1977. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung (diterjemahkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan, IPB).
    Williamson and Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Penerjemah : Djiwa Darmadja dan Ida Bagus Djagra.
    Copyright 2009 Coretan nusantara. All rights reserved.
    Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates